Menulis Sebagai Aktifitas Menyenangankan, Bukan Keterpaksaan

Memelihara Kedermawanan Bulan Ramadhan

http://turmuzitur.blogspot.com/
Ayomenulis. Dimata umat Islam, dari sekian banyak bulan dalam Islam, bulan ramadhan merupakan bulan dipandang sangat mulia dan menempati posisi paling diistimewakan. Dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan hampir menjadi dambaan dan impian setiap umat Islam, sebagai anugrah dan nikmat tuhan tiada tara nilainya.

Ramdhan dibandingkan hari besar dan bulan lain, sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an, dan hadits Nabi Muhammad SAW maupun keterangan ulama murupakan bulan paling terbaik dari sekian ribu bulan, dengan salah satu malam, sebagai malam paling mulia di antara seribu malam, yaitu malam lailatul qadar.

Kalau dalam agama budha untuk mendapatkan pengampunan tuhan dan penyucian dosa dilakukan di sungai gangga sebagai sungai yang disucikan, Maka ramadhan bagi umat islam merupakan bulan yang demikian disucikan dan diagungkan, sebagai bulan pengampunan dari dosa yang pernah dilakukan secara lisan maupun dalam bentuk tindakan selama telibat pergaulan, dalam hubungannya dengan tuhan maupun sesama manusia.

Keistimewaan dan kemuliaan ramadhan juga nampak tercermin dari keperibadian sebagian besar umat islam menjadi demikian dermawan, melahirkan perasaan senasib sepenanggungan, kasih sayang, sikap empati dan kepedulian sosial tinggi, berbagi dengan sesama. dari sekelas preman, pejabat pemerintahan hingga pengusaha kawakan. Bantuan dan sumbangan mereka berikan tanpa rasa sungkan, dari makanan hingga sekedar menebar senyuman.

Yang tadinya pelit berubah menjadi baik, yang suka buka-bukaan menjadi sopan dalam berpakaian, dari prilaku arogan menjadi demikian toleran. Ramadhan telah mampu menjadi spirit dan energi positif melahirkan gerakan moral, bagi setiap umat islam, tidak saja dalam bingkai hubungan manusia dengan tuhan.

Melainkan telah berdampak besar merubah tatanan kehidupan sosial manusia kearah lebih baik. Kalau tradisi semacam ini terus tetap mampu dipertahankan, mungkin tidak aka nada lagi cerita tentang busung lapar, pengemis jalanan, orang miskin yang jarang menikmati makanan, tidak akan ada lagi permusuhan dan kebencian, kejahatan dan pengangguran

Ramadhan mengajarkan tentang kesetaraan dan keadilan. Hal itu tercermin dari kewajiban melaksanakan puasa dari Tuhan bagi setiap umat Islam, tidak membedakan antara miskin dan kaya, tua muda, ketokohan, pangkat apalagi jabatan. Karena ukuran keimanan seseorang di hadapan Tuhan memang tidak diukur berdasarkan simpul dan atribut yang melekat di badan, tidak pula diukur dari pakaian, kopiah atau jilbab dikenakan, melainkan lebih pada cerminan sikap ketaqwaan.

Intlektual muslim, Anis Basweda dalam salah satu tulisannya di harian Kompas mengemukakan, kedermawanan, prilaku toleran, kesopanan dan sikap tolong menolong oleh umat islam semestinya tidak diposisikan sebatas kewajiban dan tradisi tahunan yang hanya dilakukan ketika bulan ramadhan tiba. Namun prilaku dan sikap-sikap positif tersebu harus mampu dipelihara dan dipertahankan dalam kehidupan bermasyarakat, sebelum maupun sesudah bulan ramdhan berlalu.

Sayangnya kedermawanan, kasih sayang, kerukunan, sikap toleran, tolong menolong, dan kesopanan tersebut hanya berlansung di bulan ramadhan, sehabis ramadhan sikap-sikap tersebut seakan hilang dan habis masa berlakunya. Tidak mampu dipelihara dan dipertahankan, permusuhan, kejahatan, sikap arogan, ketimpangan, ketidak adilah dan kesewenang-wenangan penguasa memberlakukan kebijakan senantiasa kembali muncul kepermukaan.

Saya terkadang berfikir apakah kebaikan setiap orang menjelang ramadhan hanya sebatas kepura puraan, menggugurkan kewajiban, plitik pencitraan mendapatkan pujian sebagai tokoh, pejabat dan pengusaha dermawan atau sekedar tradisi yang dilakukan secara musiman

Padahal keberhasilan tempaan dan pendidikan ramadhan selama sebulan justru akan kelihatan hasinya ketika sorang muslim mampu memelihara dan melanjutkan kedermawanan, kemuliaan dan ajaran kebajikan ibadah puasa setelah ramadhan berlalu. Yang dicerminkan melalui prilaku, sikap dan keperibadian. Dan momentum inilah masa uji kelayakan (tes and propertes) terhadap keimanan dan ketaqwaan setiap umat islam dimulai.

Pengamat sosial Komarudin Hidayat, dalam bukunya “Psikologi Agama,” mengatakan agama ibarat pakaian, meski dalam banyak sisi keduanya memiliki banyak perbedaan, namun dalam sisi lain keduanya sama-sama mendatangkan rasa nyaman. Seorang yang beragama, mestinya jiwa dan badannya menjadi sehat, kehormatan dirinya terjaga, dan prilaku serta tutur katanya enak di pandang dan didengar.

Kalau ketiga hal tadi tidak di temukan, pasti ada yang salah dengan dirinya, atau ukuran pakaiannya yang tidak pas, mestinya dengan beragama, mampu mendatangkan rasa nyaman terhadap dirinya dimana pun ia berada. Demikian halnya dengan puasa. Dengan berpuasa semestinya mampu menjadikan sesorang sebagai pribadi yang jujur, memiliki kepedulian, dan solidaritas sosial tinggi dan sikap saling toleran terhadap sesama.

Kalau dengan berpuasa kepribadian semacam ini tidak mampu dicerminkan, maka puasa yang dilaksanakan bisa tergolong sebagai sebuah kegagalan. Inilah poin terpenting di balik pelaksanaan ibadah puasa. Tidak sedikit orang melaksanakan puasa bukan berdasarkan kesadaran untuk menciptakan perubahan, melainkan sebatas menggugurkan kewajiban. Sukses melaksanakan pusa hanya dari sisi ritual semata, tetapi gagal menangkap makna substansialnya.

Posting Komentar

Terimakasih telah mengunjungi blog saya, komentar positif dan bersifat membangun akan menjadi masukan dan perbaikan

Ayo Menulis